Kuta Utara, Badung

  • Dibaca: 1656 Pengunjung
Kuta Utara, Badung

Kecamatan Kuta Utara adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Badung, Bali, Indonesia. Luasnya adalah 33,86 km². Pada tahun 2004, penduduknya berjumlah 54.640 jiwa. Kecamatan Kuta Utara dulu juga merupakan bagian dari Kecamatan Kuta yang sudah mendapatkan pengembangan sama seperti Kecamatan Kuta Selatan. Kuta Utara merupakan salah satu tujuan turis asing berkunjung ke Bali. Disini masih banyak terdapat persawahan yang indah dengan suasana pedesaan serta udara yang sejuk, selain sawah sudah terdapat sekolah internasional seperti Canggu Community School di kawasan Canggu Club, terdapat Banyak akomodasi seperti Villa, Hotel, Restoran dan Bar yang cukup terkenal di bali serta terdapatnya waterpark, supermarket, dan hiburan lainnya, dan untuk menunjang kemajuan pariwisata di daerah Kuta Utara sudah ada banyak SMK Dan Kampus Pariwisata. Untuk Kesehatan ada Puskesmas Kuta Utara (Kerobokan). Terbentang pantai berpasir dan berkarang yang indah yang langsung menghadap Samudra Hindia yang indah dan sangat sering dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara untuk surfing serta menikmati matahari terbenamnya. Ada beberapa pantai di Kuta Utara mulai dari Pantai Petitenget (Kerobokan), Pantai Batu Belig (Kerobokan Kelod), Pantai Kayu Putih/Loloan Yeh Poh (Tibubeneng), Pantai Berawa (Tibubeneng), Pantai Prancak (Tibubeneng), Pantai Nelayan (Canggu), Pantai Batu Bolong (Canggu), Pantai Pura Batu Mejan/Echo Beach (Canggu), serta pantai yang paling bagus untuk surfing adalah Pantai Berawa, Pantai Batu Bolong dan Echo Beach. Di Kuta Utara juga terdapat wilayah bernama Banjar Tegal Gundul yang masuk dalam wilayah Desa Adat Canggu, Desa Dinas Tibubeneng. Yang sempat pada 8 April 2007 kisruh dengan pelarangan penyenderan sungai Loloan Yeh Poh atau lebih dikenal Pantai Kayu Putih. Mereka beranggapan bahwa investor melanggar sk Bupati yang melarang tempat suci berupa campuan sungai dibuat jadi objek dan sarana wisata. Bendesa adat bernama Ketut Mudra dengan ngototnya mengatakan bahwa campuan atau loloan itu jika dibuatkan senderan (di urug) akan dapat menenggelamkan persawahan dan perkampungan mereka. Sedangkan investor beranggapan, mereka hanya sekadar menata lingkungan sebelum membuat resort yang mendukung pariwisata. Karena terjadi tidak saling sepakat warga di 8 desa adat sekecamatan Kuta Utara melakukan demo sebanyak dua kali. Pertama langsung di proyek senderan yang merupakan pelebaran dari kawasan Canggu Resort, diterima oleh Pejabat dari Dewan di Tingkat Satu atau DPRD Bali mereka sepakat lewat Kepala Dusun atau Kelian Dinas Banjar Tegal Gundul Wayan Suryanto untuk menghentikan sementara pembangunan senderan yang sedang dipermasalahkan tersebut. Keesokan harinya mereka kembali melakukan pertemuan dengan berbagai pihak terkait yang dilakukan di Banjar Tegal Gundul dihadiri oleh Kapolsek, Kelian Dinas Banjar Tegal Gundul dan bendesa adat Canggu untuk membahas hasil kesepakatan tentang penghentian dan pembatalan proyek senderan di Loloan Yeh Poh itu. Suasana masih tetap mencekam di wilayah konflik di sekitar pantai Berawa karena masyarakat tetap berkeinginan agar proyek itu dihentikan untuk selamanya. Di daerah itu tidak menolak adanya investor masuk dan bahkan dulu di daerah dekat Loloan Yeh Poh sudah terbangun hotel berbintang yang bernama Hotel Dewata. Dan hingga kini masyarakat sekitar pantai menyerukan Penolakan Reklamasi dan harapannya para investor bidang pariwisata atau yang lainnya bisa membangun dan berkembang dengan selaras dengan masyarakat sekitar dan tanpa merusak alam serta tidak merusak tempat/kawasan suci dan tidak melanggar awig awig/peraturan adat di daerah tersebut.

  • Dibaca: 1656 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya