07 September 2010 jam 16:33
good_view
   Tertib Administrasi Kependudukan
    agar kehidupan anda berjalan nyaman dan aman
 
  
Nama User

Sandi

Ingatkan saya
Pemberitahuan Ulang Kata Sandi
Belum menjadi anggota? Daftar

logo_badung_kecil

ikon-bupati

info_legislatif
INFO TATA RUANGINFO PENANGGULANGAN BENCANA
info_perempuan1info-pdam1

  pemilukada
  panwaslu
  kpu-bali
  porprov-9
 

  STATISTIK KAB. BADUNG
  BADAN NARKOTIKA KAB BADUNG  
  PMI CAB BADUNG
 
INFO KESEHATAN
 
INFO TENAGA KERJA
 

  info-lelang
  rumah-beasiswa


  

  honorer

 

Jajak Pendapat
Menurut anda bidang apakah yang perlu diprioritaskan dalam pembangunan Badung kedepan
  

Gambaran Umum
Pemerintahan
Pembangunan
Pelayanan Umum
INTRANET
Pariwisata
Tentang Bali
Rupa-rupa

 


Terdapat 25 pengunjung online
Situs ini telah dikunjungi 1382223 kali sejak 6 Juni'08

 
    
Bagian ::   BERANDA arrow Ngaben

Ngaben PDF Cetak E-mail

Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian. Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.

ImageHari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah  melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan  atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.

Pagi hari sebelum upacara Ngaben dimulai, segenap keluarga dan handai taulan datang untuk melakukan penghormatan terakhir dan biasanya disajikan sekedar makan dan minum. Pada tengah hari, jasad dibersihkan dan dibawa ke luar rumah diletakkan di Bade atau lembu yang disiapkan oleh para warga Banjar, lalu  diusung beramai-ramai, semarak, disertai suara gaduh gambelan dan "kidung" menuju ke tempat upacara. Bade diarak dan berputar-putar dengan maksud agar roh orang yang meningal itu menjadi bingung dan tidak dapat kembali ke keluarga yang bisa menyebabkan gangguan, dll.

ImageSesampainya di tempat upacara, jasad ditaruh di punggung lembu, pendeta mengujar mantra - mantra secukupnya, kemudian menyalakan api perdana pada jasad. Setelah semuanya menjadi abu, upacara berikutnya dilakukan yakni membuang abu tersebut ke sungai atau laut terdekat lalu dibuang, dikembalikan ke air dan angin. Ini merupakan rangkaian upacara akhir atas badan kasar orang yang meninggal, kemudian keluarga dapat dengan tenang hati menghormati arwah tersebut di pura keluarga, setelah sekian lama, arwah tersebut diyakini akan kembali lagi ke dunia.

Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya.  Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya. Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya ; Pulau Bali.


Tanggapan Pengguna

Dikomentari oleh : mingko pada 2009-10-18 20:34:10
apakah ngaben merupakan tradisi asli bali atau budaya yang datang bersamaan dengan masuknya agama Hindu k Bali?
Silakan Login utk menambah komentar




Saran dan Kritik konstruktif dari para pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan situs ini di masa mendatang. Terima Kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusinya bagi keberlangsungan situs ini.


Pengelola Situs : Dinas Perhubungan Komunikasi & Informatika
Penanggung jawab : I Made Sutama SH, MH
Supervisi : Dewa Made Ardita, SE, MSi.
Pengarah : I Ketut Alit Astamaja, S.Sos
Web Master : Ir. I Made Aryawan

Terima kasih kepada : Mambo Open Source dan semua pihak yang telah membantu terwujudnya Situs ini.